Kitab Kematian dan Kehidupan Seks 'Tak Wajar' pada Era Mesir Kuno

Sunday, 30 October 20160 comments




Criminalpedia-Urusan dan praktik-praktik seksual cukup sulit ditebak dari catatan-catatan arkeologis. Tidak seperti jenis pangan atau penyakit, praktik seksual tidak meninggalkan bekas pada jasad manusia. Bukan hanya itu, benda-benda yang dipakai saat melakukan tindakan seksual biasanya tidak disertakan dalam catatan-catatan arkeologis, seandainya memang ada.


Lagipula, dalam banyak masyarakat kuno, urusan seks jarang ditampilkan peninggalan budaya. Ketika ada tampilan seks, pemahamannya dilakukan oleh pengamat masa kini.
Dikutip dari Ancient Origins pada Kamis (25/8/2016), untuk mengerti alasan suatu masyarakat menampilkan gambar-gambar seksual, orang perlu mengandalkan sumber-sumber tertulis.
Tapi, sumber-sumber tertulis seringkali tidak menggambarkan masyarakat secara keseluruhan, melainkan merupakan pandangan satu kelompok saja.
Pengertian seks dalam masyarakat kuno lebih rumit lagi ketika berurusan dengan praktik-praktik yang melibatkan tindakan seksual bukan antara pria (hidup) dengan wanita (hidup). Misalnya, seks dengan mayat, hewan, atau homoseksualitas.
Menurut kebanyakan sumber yang ada tentang homoseksualitas, dalam masyarakat Mesir Kuno, hubungan heteroseksual ditengarai menjadi norma utama. Homoseksualitas dipandang dengan curiga.
Dalam Mantra 125 dalam Kitab Kematian, diceritakan tentang orang sakit yang tiba di "gerbang Dua Kebenaran". Ada tertulis demikian, "Saya tidak melakukan sesuatu yang salah secara seksual, karena saya tidak melakukan praktik homoseksualitas."
Salah satu isi Kitab Kematian pada masa Mesir Kuno. Tidak seperti jenis pangan atau penyakit, praktik seksual tidak meninggalkan bekas pada jasad manusia. (Sumber Ancient Origins)
Dengan demikian, berdasarkan kutipan tersebut, homoseksualitas ditengarai menjadi sesuatu yang terlarang.
Share this article :

Post a comment

 
Support : | |
Copyright © 2016. Criminalpedia
Published by
powered by Blogger